Apresiasi Sastra
Pengarang lebih peka dalam menggunakan bahasa. Kelebihan itu disumbangkannya kepada orang lain dalam bentuk karya sastra.
Bahasa dalam sastra mempunyai ragam tersendiri. Bahasanya bukanlah bahasa sehari-hari. Bentuk kata dan kalimatnya mungkin sama dengan bentuk kata dan kalimat sehari-hari, tetapi makna dan pesannya lebih daripada yang dibawa oleh bahasa sehari-hari. Dalam bahasa sastra, terdapat pesan lain yang mempunayi sifat indah. Pesan lain itu mempunyai kemampuan “menyentuh” yang lebih mendalam daripada pesan bahasa sehari-hari.
Bahasa sastra digunakan untuk berkomunikasi ganda. Pencipta karya sastra akan berkomunikasi dengan orang lain, dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhan. Di dalam karya sastra, terdapat kerumitan-kerumitan yang disebabkan oleh kematangan jiwa pengarangnya. Demikian padat dan sarat kandungan yang ada dalam bahasa sastra sehingga untuk memahaminya diperlukan kekuatan dan kemampuan tersendiri.
Pesan yang disampaikan melalui bahasa sastra mempunyai arti yang besar untuk kepentingan pembaca. Pesan itu selalu memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Masuknya pengetahuan dan pengalaman baru itu melalui upaya penikmatan karya sastra. Seorang pembaca yang berhasil menangkap pengetahuan baru dari karya sastra dikatakan telah mencapai apresiasi sastra. Jadi, apresiasi sastra sebagai aktivitas adalah upaya mendapatkan kenikmatan melalui pemahaman karya sastra, khususnya bahasa yang digunakannya.
Apresiasi Sastra dalam Kehidupan Sehari-hari
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak pernah terlepas dari kumandangnya karya sastra, baik melalui bacaan maupun melalui lagu-lagu. Orang berdoa dengan membaca wacana yang bernilai sastra. Kaum Muslimin membaca shalawat dan pujian yang juga tersusun sebagai karya sastra. Hiburan yang ditayangkan melalui layar televisi banyak yang mempunyai bentuk dan corak sastra. Sambil menikmati hiburan, penonton televisi menangkap pesan-pesan yang disampaikan baik secara langsung maupun secara terselubung. Manfaat yang dapat dipetik dari kemampuan mengapresiasi karya sastra antara lain adalah manfaat kepuasan yang memberikan tenaga baru dan gairah baru, manfaat pertambahan pengetahuan dan pengalaman, serta manfaat dalam bidang estetika dan etika.
Mempelajari Apresiasi Sastra
Dalam mempelajari apresiasi sastra, tujuan yang ingin dicapai adalah terbentuknya sikap siswa agar dapat menghargai karya sastra. Sikap tersebut dapat terbentuk apabila siswa langsung melakukan penikmatan dan penghayatan terhadap karya sastra, tidak hanya dari beritanya. Membaca langsung karya sastra perlu ditanamkan sehingga menjadi kebiasaan. Kepada siswa perlu diyakinkan bahwa banyak tokoh dalam sejarah yang sering mengutip karya sastra untuk kepentingan membangkitkan semangat kaumnya. Contohnya, Karya Multatuli yang artinya: Betapa bahagianya petani yang menuai padi yang ditanamnya sendiri.
Mempelajari apresiasi sastra dapat ditempuh secara bertahap. Secara garis besar tahapan itu adalah sebagai berikut:
- Tahapan ke-1 Memahami adanya perbedaan antara bahasa sehari-hari dan bahasa sastra.
- Tahapan ke-2 Memahami adanya perbedaan antara bahasa sastra dan bahasa keilmuan.
- Tahapan ke-3 Memahami segi-segi susastra dalam puisi dan novel.
- Tahapan ke-4 Memahami kritik sastra yang sederhana.
- Tahapan ke-5 Menganalisis karya sastra.
- Tahapan ke-6 Menafsirkan karya sastra.
- Tahapan ke-7 Memahami sejarah periodisasi sastra.
Penahapan tersebut tidak mutlak untuk disajikan dalam tujuh kali kegiatan belajar-mengajar. Dengan memperhatikan situasi dan kondisinya, dalam satu kegiatan dapat disajikan dua atau tiga tahapan sekaligus. Lebih-lebih dengan asas kompetensi, penahapan tersebut dapat diatur oleh guru dengan lebih saksama lagi.
- Satu
- Dua
- Tiga
- ... dan seterusnya
H. Hartono, A.Ma.Pd.
adalah Kepala SDN Banjaran 02,
Alian-Kebumen, Jawa Tengah. Pusbuk.





